G
N
I
D
A
O
L

Dari Bahasa Ibu hingga Bahasa Dunia, Pekan Bahasa 2025 Smaliska Menyatukan Kreativitas di Satu Panggung

Krian – Bahasa bukan sekadar rangkaian kata yang digunakan untuk berkomunikasi. Di tangan para pelajar, bahasa dapat berubah menjadi puisi yang menyentuh, drama yang menghibur, lagu yang memikat, hingga pertunjukan yang mempertemukan berbagai budaya dalam satu panggung. Semangat itulah yang terasa dalam Pekan Bahasa 2025 SMA Al-Islam Krian.

Dengan mengusung tema “Using Language Globally, Shining Totally”, Pekan Bahasa 2025 menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa tidak berhenti pada buku pelajaran dan ruang kelas. Bahasa dapat menjadi sarana untuk berani tampil, berekspresi, mengenal budaya, sekaligus membuka diri terhadap dunia yang lebih luas.

Kegiatan yang berlangsung pada 26 November 2025 tersebut menjadi salah satu perhelatan yang mempertemukan berbagai kemampuan berbahasa di lingkungan SMA Al-Islam Krian. Bahasa Indonesia, bahasa daerah, hingga sejumlah bahasa asing hadir secara bergantian melalui pertunjukan yang disiapkan oleh para siswa dan ekstrakurikuler.

Sejak awal acara, suasana mulai terasa berbeda. Para siswa tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari pertunjukan. Ada yang berdiri di atas panggung membawa puisi, ada yang menampilkan tarian, sementara kelompok lainnya mempersiapkan pertunjukan dalam bahasa yang berbeda.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan Kepala SMA Al-Islam Krian,Drs. Suharyono AZ, M.Kom. Dalam sambutannya, kepala sekolah mengajak seluruh siswa mensyukuri keberagaman bahasa dan budaya yang dimiliki Indonesia.

“Kita berada di negara Indonesia yang memiliki bahasa daerah yang beragam. Namun, kita tetap aman dan damai meskipun berbeda-beda. Inilah Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi pijakan penting dalam penyelenggaraan Pekan Bahasa 2025. Keberagaman bahasa tidak dipandang sebagai perbedaan yang memisahkan, melainkan kekayaan yang perlu dikenal, dihargai, dan dilestarikan.

Usai sambutan, panggung Pekan Bahasa mulai dipenuhi berbagai pertunjukan. Penampilan puisi berbahasa Indonesia menjadi salah satu sajian pembuka yang memperlihatkan bagaimana kata-kata dapat disampaikan dengan penuh penghayatan. Melalui pembacaan puisi, siswa menunjukkan kemampuan dalam mengolah bahasa sekaligus menyampaikan pesan kepada para penonton.

Suasana kemudian beralih melalui penampilan ekstrakurikuler tari. Gerakan, musik, dan ekspresi para penampil membawa penonton menikmati pertunjukan yang tidak hanya berbicara tentang bahasa secara lisan, tetapi juga tentang bahasa tubuh dan budaya.

Pekan Bahasa 2025 juga menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada para siswa yang telah berkompetisi dalam Foreign Language Smaliska (FLASS). Para pemenang lomba diberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kemampuan dan keberanian mereka dalam menggunakan bahasa asing.

Tidak berhenti pada pemberian penghargaan, para pemenang juga kembali menunjukkan kemampuan terbaiknya melalui penampilan di panggung utama.

Kehadiran para pemenang membuat suasana semakin menarik. Penonton dapat menyaksikan secara langsung kemampuan yang sebelumnya mengantarkan mereka menjadi juara dalam kompetisi FLASS.

Penampilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kompetisi bahasa bukan hanya tentang memperoleh gelar juara. Lebih jauh, lomba menjadi ruang latihan bagi siswa untuk membangun keberanian, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta belajar tampil di hadapan orang lain.

Setelah sesi penghargaan dan penampilan para pemenang, suasana kembali berubah ketika drama berbahasa Jawa ditampilkan.

Penggunaan bahasa Jawa di atas panggung menjadi pengingat bahwa perkembangan zaman dan penguasaan bahasa asing tidak seharusnya membuat generasi muda melupakan bahasa daerah. Justru, bahasa daerah dapat menjadi bagian dari identitas yang tetap hidup ketika dikemas secara kreatif dan dekat dengan dunia pelajar.

Dari bahasa daerah, panggung kemudian kembali menjelajah ke berbagai bahasa asing.

Penampilan ekstrakurikuler Mandarin turut memperlihatkan kemampuan siswa dalam mempelajari bahasa dan budaya Tiongkok. Penggunaan bahasa asing tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan siswa pada keberagaman komunikasi global.

Berikutnya, Nihongo Club menghadirkan nuansa Jepang dalam rangkaian pertunjukan. Bahasa Jepang yang dipelajari melalui kegiatan ekstrakurikuler tidak hanya dipraktikkan dalam pembelajaran, tetapi juga dibawa ke atas panggung melalui penampilan yang menghibur.

Penampilan ekstrakurikuler Al Ahrom kemudian menambah keberagaman bahasa dalam Pekan Bahasa 2025. Bahasa Arab menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan yang memperlihatkan kemampuan siswa dalam mengembangkan keterampilan bahasa melalui kegiatan di luar pembelajaran reguler.

Sementara itu, IMEL atau English Club turut menutup rangkaian penampilan dengan kemampuan berbahasa Inggris. Kehadiran English Club menjadi salah satu gambaran bagaimana bahasa asing dapat dipelajari secara lebih menyenangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Beragam penampilan tersebut memperlihatkan satu hal yang sama: bahasa dapat menjadi pintu untuk mengenal dunia.

Jika bahasa Indonesia menjadi alat untuk memperkuat identitas nasional, bahasa daerah menjadi bagian dari warisan budaya, maka penguasaan bahasa asing memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkomunikasi dengan masyarakat dunia.

Pekan Bahasa 2025 pada akhirnya bukan sekadar acara pertunjukan. Di balik panggung dan kemeriahan yang terlihat, terdapat proses belajar yang berlangsung melalui pengalaman.

Siswa belajar berbicara di depan umum, menghafalkan teks, mengatur intonasi, bekerja dalam kelompok, mempersiapkan penampilan, hingga belajar mengatasi rasa gugup ketika harus tampil di hadapan banyak orang.

Hal tersebut menjadikan Pekan Bahasa sebagai ruang pembelajaran yang berbeda. Materi yang selama ini dipelajari di dalam kelas dapat dipraktikkan secara langsung melalui berbagai bentuk kreativitas.

Melalui kegiatan tersebut, siswa juga diajak memahami bahwa menguasai bahasa bukan hanya tentang mengetahui kosakata dan tata bahasa. Kemampuan berbahasa juga berkaitan dengan keberanian menyampaikan gagasan, kemampuan memahami orang lain, serta sikap santun ketika berkomunikasi.

Di tengah perkembangan dunia yang semakin terbuka, kemampuan multibahasa menjadi salah satu bekal penting bagi generasi muda. Namun, penguasaan bahasa asing tetap perlu berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Pesan tersebut menjadi salah satu makna utama yang dibawa melalui “Using Language Globally, Shining Totally”. Siswa didorong untuk mampu menggunakan bahasa secara luas, tetapi tetap memiliki identitas dan karakter sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Pada akhirnya, Pekan Bahasa 2025 meninggalkan lebih dari sekadar kemeriahan sebuah acara. Ada keberanian siswa untuk tampil, ada budaya yang kembali diperkenalkan, ada bahasa asing yang dipraktikkan, dan ada prestasi yang mendapatkan apresiasi.

Dari puisi berbahasa Indonesia hingga drama berbahasa Jawa, dari Mandarin hingga Jepang, dari Arab hingga Inggris, seluruhnya bertemu dalam satu panggung yang sama.

Satu panggung, banyak bahasa, dan satu semangat menjadikan kemampuan berbahasa sebagai jalan untuk mengenal dunia tanpa kehilangan jati diri.

Melalui Pekan Bahasa 2025, SMA Al-Islam Krian menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi jembatan antara identitas, kreativitas, prestasi, dan wawasan global. Generasi muda tidak hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga mampu membawa bahasa dengan sikap santun, percaya diri, dan penuh tanggung jawab.