Diklat Penempuan SKU Putri Kelas XI IPS, Melatih Jiwa Religius dan Menjalin Kekompakan”

Jurnalistik. Smaliska. Senin (26/3). Diklat pramuka wajib untuk penempuan Syarat Kecakapan Umum untuk kelas XI IPS telah dilaksanakan dengan lancar selama dua hari semalam kemarin. (24-25/3). Diklat yang dipanitiai oleh anggota ekstra pramuka Smaliska (Pramaliska) ini penuh dengan kenangan bagi para peserta yang bergender perempuan ini. Pasalnya diklat pramuka kemarin adalah yang terakhir bagi mereka selama menjadi siswi di Smaliska.

Diklat penutup di semester genap ini menu acara sama dengan diklat sebelumnya yaitu pengajaran materi perawatan jenazah. Pelaksanaan sholat malam menjadi nilai tersendiri bagi peserta karena biasanya pramuka hanya identik dengan api unggun dan materi kepramukaan. Namun diklat pramuka untuk penempuan SKU di Smaliska kali menyuguhkan materi religi yang lebih menonjol yaitu perawatan jenazah dan sholat malam.

“Diklat pramuka kemarin asyik, seru banget. Karena di diklat pramuka kali ini saya banyak mendapat hal yang baru. Mulai dari apa itu pramuka, bagaimana merawat jenazah, dan pelaksanaan sholat malam. Tidak kalah serunya yaitu ketika api unggun, saya merasakan kekompakan dalam kelas kami dengan yel-yel khusus sebagai identitas kelas. Pokoknya diklat pramuka kemarin keren banget!” kata Alfina (XI IPS 4) salah satu anggota jurnalis yang berwajah imut ini.

Hal senada juga terlontar dari Elfira Putri Rahmadani (XI IPS 7) siswi yang memiliki suara merdu dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran ini. Dirinya merasa bahwa diklat kemarin benar-benar merasakan kebersamaan dengan teman sekelasnya. Mulai dari upacara pembukaan sampai penutupan.

“Kebersamaan dan kekompakan sangat terasa dalam diklat kemarin. Saya menjadi semakin dekat dengan teman-teman sekelas. Terutama lagi ketika sholat malam.” Jelasnya.

Diklat yang menjadi agenda wajib dalam kurikulum 2013 ini dibuka oleh Slamet Seksono, MM, wakasek kesiswaan Smaliska. Wakasek yang juga mantan pembina pramuka ini memberikan semangat kepada seluruh peserta yang ikut dalam upacara pembukaan.

“Dari pramuka banyak terlahir orang-orang yang hebat. Karena di dalam pramuka dilatih bagaimana bertakwa kepada Tuhan Yang  Maha Esa, kedisiplinan juga tanggungjawab” jelasnya.

Sementara itu pada sesi perawatan jenazah, Ust. Bukhori yang juga seorang aktifis pramuka selama di SMP dan Gontor menyuguh materi yang santai dan sesekali diselingi guyonan agar ketakutan peserta terhadap kafan atau pun bentuk pocong jenazah berkurang.

Setelah diterangkan dan diberi contoh sekali peserta terlihat mahir dalam mempraktekkannya. Hal itu terbukti ketika praktek mengkafani jenazah dari kelompok  setiap kelasnya peserta terlihat tidak canggung dan seperti paham betul langkah demi langkah dalam mengkafani jenazah.

“Saya sangat bangga dengan kemampuan anak-anak pada diklat kemarin. Mereka terlihat semangat dan penuh perhatian atas apa yang dijelaskan. Ketika sholat malam pukul 02;30 peserta muda dibangunkan dan langsung berbondong-bondong turun ke masjid lantai dasar” kata Ust. Bukhori, pembina yang pernah ikut Cadika dan KMD sewaktu menjadi santri di Gontor dulu. (BCR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *